Just be Be Brave to Try

13 Agustus 2012

Satu tahun mencintaimu dan dicintai olehmu
“ kata orang 13 adalah angka buruk, tapi tidak untuk kami”

Awal dari Semua. .
Pandanganku pertama adalah waktu itu. Waktu dimana saat aku berpapasan denganmu di lorong sekolah. Kau memakai baju OSIS dan ku lihat nama yang tertera di bajumu itu. “ Niken MP” !!. Aku mencarimu di jejaring sosial, dan tak ketemu. Tak disangka pula kau ( Maria Niken Mardani Pustpitasari) pun tertarik untuk mengenalku. Dan baru taulah aku bila kau mengagumiku sampai se-begitunya. “othe othe othe. .” ; “ Aku mau jadi pembantumu. . .” itu yang kau tulis dijejaring sosial saat itu. Aku tahu itu untukku. Padahal kau belum mengenalku, begitupula aku.

Waktu mengenalkan kita. .
Hanya butuh 3 minggu dihitung dari saat aku memandangmu. Belum cukup memang untuk semua ini. Aku belum tau siapa kamu sesungguhnya, sifat kamu, kesungguhan kamu, dan sebagainya tentangmu. Tapi rasa ini tak bisa dibendung, semua ini aku ingin bebaskan, aku ingin. . . Dan aku mengungkapkannya. .  “ Mau nggak kamu jadi pacar aku” 13 Agustus 2011 kau pun resmi jadi pacar aku.
Hariku berubah; saat sms dengan panggilan sayang. Jika kau tahu begitu senangnya hati ini.
Waktu pun sekali lagi mengenalkan kita. . .

Memutuskan Mencintaimu
Masa lalu begitu kejam buatku. Aku harus bertarung dengan diri sendiri, dan saat itulah ak merasakan kekeringan hati. Tuhan yang kupinta pun sudah bosan mendengar keluhan ini.
Pikiranku melampaui ke belakang, melihat alasan mengapa aku berani mencintaimu. Masukku di kelas 3 SMA membuatku berpikir berkali-kali untuk mencari pacar. Tapi satu yang mempu memutuskan untuk mencintaimu adalah aku berkomitmen. “ aku punya pacar tapi harus sembodo dalam belajar “. Sampai ayahku pun awalnya melarangku untuk berpacaran. Alasan klasik sebenarnya, fokus sekolah dahulu. Pasti bakal konsentrasiku terpecah.
Aku berteguh dengan komitmenku. Jujur memang jika dipikir nilaiku bakalan laebih baik jika aku fokus dulu dengan sekolah. Tapi apakah lebih baik jika aku mampu melampaui sekolahku dan mengolah rasa ini. Di mana aku mampu memilah, menyikapi, menjadi seorang pelajar dan seorang kekasih. Dari sinilah aku menjadi dewasa, mampu melampaui semua itu. Peristiwa inilah yang membuat orangtuaku percaya.

Mencintai dan Dicintai “tidaklah mudah”
Aku pernah mendengar dari seseorang bahwa me- itu lebih susah dari pada di-. Memang benar pernyataan itu. Sebagai seorang remaja emosi kita tergolong labil. Aku menyadari bahwa terkadang aku mengalami yang namanya ketidak cocokan. Aku rasa kau pun juga. Sikap kita yang berbeda terkadang membuat kita pun bertengkar. Masalah sepele bisa jadi besar. Emosi ini terus tumbuh dan begitu kolot. Namun kita pun lama-lama menyadari bahwa cinta itu memberi, bukan hanya menerima. Aku sadar terkadang aku menuntutmu untuk ini dan itu, karena itu idealisme ku. Aku pun mulai merefleksikan diri, atas semua yang aku inginkan tidaklah baik untuk hubungan ini. Aku merefleksikan bahwa lebih baiklah aku untuk me-, dari pada di-(menuntut). Dan aku pun terjurus, bahwa aku akan berusaha memberi cinta dari pada dicinta. Sikap inilah yang selalu aku tanamkan, meski tidaklah mudah untuk menjalankannya. Kini aku mencoba untuk lebih mengeti dan memahami.
Kuberikan cintaku setiap hari untukmu. .

“Awal kisah cinta kita yang belum ditermima oleh mamahmu, dari ketidak cocokan kita, dan semua kisah yang membuat sulit untuk mencintai. Dan jika itu, lihatlah ketika kita bersenang-senang, bercanda, saat kata-kata manis cinta yang keluar dari hati kita, saat keluargamu menerima aku, begitupula keluargaku menerima kamu; dan semua yang telah kita lakukan, yang membuat kita bahagia. Yang membuat ak bangga memilikimu. Karena kebahagiaan yang melengkapi hidupku ini.”
Sungguh aku bersyukur atas semua ini. . .
untukmu Ken. .
Sayang terimakasih ya atas pendampinganmu selama ini. Sungguh dengan apa lagi aku mesti berterimakasih atas cintamu itu. Kau menyapaku setiap pagi, mengingatkanku, mengucapakan kata manis ketika malam larut, dan sebagai mana macam engkau berikan kepadaku. Meski jauh tak ada berubah bagimu untuk memberikan semua ini. Terimakasih pengertianmu, kerelaanmu untuk menjalani hubungan ini. Meski jauh.  Tak ada hal lebih indah ketika aku melihatmu terus tersenyum bersamaku.
Aku bersyukur atas perjalanan hidupku, terlebih karena Tuhan menghadirkanmu dalam hidupku. Sejauh apapun, aku akan memepertahankan cinta ini. Cinta ini memberikan aku semangat untuk melangkah, untuk bangun, untuk mempersembahkan diri, melatih kedewasaan, membawa pengharapan, dan segala hal tentang pemberian cinta. Terimakasih cintaku, Maria Niken Mardani Puspitasari. Terimakasih Tuhanku Yesus Kristus.

 Cikarang, 13 Agustus 2012

23.00

“terimakasih atas satu tahun ini”

Theodorus Argo Nugroho

ATMI CIKARANG

Iklan

Cinta Bukan (hanya) Coklat

Bacaan ringan, cemilan coklat. .

 

You are the best thing that’s ever been MINE, aku sayang kamu Cuut :****

Kejutan

Tak disangka setelah pelajaran TIK di ruang laboratorium computer, saya mendapatkan kartu ucapan hari Valentine dan satu bungkus coklat di atas meja yang saya tempati. Saya baca kartu ucapan itu dan tak berpikir anjang saya langsung menghampiri pengirim kartu ucapan dan coklat ini, yang tak lain dan bukan adalah pacar saya sendiri. Saya menghampiri ke kelasnya dan mengucapkan terimakasih ; “aku sayang kamu” tak lupa saya ucapkan ; sebelum pelajaran berganti. Tidak ada perasaan lain yang saya rasakan kecuali, seneng, seneng banget, berbunga-bunga, terharu, sayang dan segala macam perasaan tentang cinta, ketika menerima hal pesial dari orang yang disayangi. Seperti kesetrum listrik dari ujung kaki ke ujung kepala, semua menjadi bergetar.

Begitu banyak cara mengungkapkan kasih sayang di hari Valentine. Bukan hanya pengalaman saya seperti diatas saja, tetapi beberapa teman saya. Dia mempersiapkan bunga untuk orang yang ia sayangi.  Dengan diam-diam dan acting teater kecil, teman saya barhasil memberikan  hal special tersebut di hari kasih sayang ini.

Cintaku Lebih Besar dari Coklat

Valentine dirayakan dengan berbagai macam cara. Kebanyakan orang  merayakan hari kasih sayang ini dengan memberikan kejutan-kejutan kepada orang yang disayangi. Hal ini wajar karena jarang ada waktu atau momen yang pas untuk mengungkapakan rasa sayang kepada seseorang.

Coklat, bunga, dan balon adalah beberapa pernak-pernik penghias ungkapan rasa sayang yang diberikan di hari Valentine. Yang dicari bukan rasa manis dari sepotong coklat saat digigit, atau wangi dan indahny karangan bunga yang diberikan, tetapi perasaan sayg terdalam di hati yang tercurah lewat coklat atau bunga tersebut. Mungkin seseorang yang hanya memberikan permen dengan ungkapan cinta terdalamnya lebih berarti daripada orang yang memberikan coklat sak pabrik’e tanpa prasa sayg dan hanya kesenangan semata.

Sebagai orang yang menerima dan melihat ungkapan special di hari Valentine ini, satidak bias berkutik memberikan suatu yang special kepada orang yang saya sayangi. Saya tidak mempersiapkan coklat atau semacamnya itu. Hmm..mungkin karena saya kurang tertarik aka hari semacam ini. Tapi tidak dapat dipungkiri sebetulnya saya ingin mengungkapkan rasa sayang seperti yang dilakukan beberapa teman bahkan pacar saya sendiri. Tanpa memikirkan yang spesial, kemudian saya hanya bias memberikan yang saya bisa saat itu. Yaitu, menyanyikan sebuah lagu. Di jam kosong, saya kemudian meminjam gitar dan menyanyikan dua buah lagu di depan pacar saya. Mungkin itu coklat saya buat dia di hari Valentine ini. Dengan perasaan malu dan salting pacar saya begitu senang. “Falling Slowly”.

“Oh iya, saya lupa. Pada jam istirahat, ada sebuah ungkapan yang  saya lontarkan kepada pacar saya. ‘Cuut, maaf aku nggak ngasih kamu coklat, aku nggak biasa ngrayain Valentine hari ini. Aku ngrayain Valentine setiap hari. Aku mengungkapkan rasa sayangku setiap saat , dari aku membuka mata sampai malam hari. “

Hari Valentine memang hanya dirayakan setahun sekali pada tanggal 14 Pebruari. Saya berpikir, mengungkapkan rasa sayang tidak hanya di hari Valentine saja. Namun setiap hari. Menyapanya setiap pagi, tersenyum, mengingatkan segala sesuatu yang baik buat dia, dan mengucapkan selamat tidur, merupakan beberapa cara  yang bisa dilakukan untuk mengungkapkan rasa sayang setiap hari. Cinta dan rasa sayang yang diungkapkan kepada orang yang disayangi akan memupuk hubungan yang harmonis. Kebaikan cinta yang tumbuh memberikan persaan yang lain. Kita diharapkan terus dan terus dalam mengungkapkan cinta. Bukan hanya dengan orang yang kita cintai saja rasa cinta dan sayang kita ungkapkan tetapi dengan guru, orangtua, sahabat bahkan teman. Karena mereka tinggal bersama kita. Merekalah yang member tawa, rasa kangen dan mewarnai hidup kita.

Cintailah sesamamu manusia seperti kamu mencintai dirimu sendiri. . .

 

 

Surakarta, 14 Pebruari 2012

18:05

“ kau lebih manis dari coklat, dan saat kau menyentuh hatiku dengan kejutanmu”

Theodorus Argo Nugroho

Choose Your Love, Love Your Choice

“aku telah menjalani hidup yang telah Tuhan berikan. Entah sampai kapan itu, tapi aku akan terus menghidupinya. Aku harap Tuhan selalu memaafakan perbuatanku selama hidup ini.  Karena selama aku menjalani hidup, tak semua yang aku lakukan selaras dengan kehendakNya”

 

Hay guys, I’m Theo. You remember me? Hahaha I hope so. . . I’ll share about choice and love.  Do you know about choice and love? Hmmm I think you know about it. Every day you can talk it with your  friend. May be you are the one which have a problem about love. Or maybe you are a student that confused to choose your favorite university after graduate. My friend, remember it! “this is Love and choice, both of them can’t be  apart”.

Choose Your Love. . .

Pilihlah sesuai cintamu.  .

Suatu ketika ada seorang bapak membelikan mainan kepada anaknya yang masih berumur  3,5 tahun. Bapak itu sangat sayang kepada anaknya. Setiap ia membelikan sesuatu kepada anaknya, ia selalu membeli dua macam barang. Satu boneka beruang berwarna biru dan satu lagi boneka beruang berwarna merah. Ia tak peduli berapa mahal harga satu barang tersebut. Yang penting ia bisa dapat dua barang yang sama namun berbeda warna. Sampai-sampai sang istri kesal akan ulahnya itu.

Sebelum berangkat kerja, bapak itu bertanya kepada anaknya.

“anakku, kamu mau minta dibeliin apa sama papah?”

“pecill, pecill, oyet oyettt” jawab si anak kecil yang sedang asik bermain kertas untuk dicorat-coret. Suara lugu anaknya membuat sang bapak tersenyum bahagia. Kebahagiaan anaknya adalah nyawa untuk ia hidup.

Setelah itu, bapak pun mencium anaknya dan kemudian ia berangkat kerja. Ketika sampai di kantor ia terus memikirkan permintaan anaknya itu. Ia takut kalau lupa membelikan pencil pesanan anaknya. Ia juga bertanya kepada teman-teman kantornya dimana toko yang menjual berbagai macam pencil. Sampai pulalah pada jam pulang kerja. Dengan buru-buru ia menuju ke salah satu toko buku yang menurut teman kantornya menjual banyak macam pencil. Yah, ia pun mendapatkan dua jenis pencil yang sama dengan warna yang berbeda. Ia sangaaaaatttt senang sekali karena bisa membelikan pencil perminyaan anaknya itu.Sesampainya di rumah, bapak itu langsung menggendong si anak sampai ia lupa memeluk istrinya.

“anakku, papah beliin pencil nih. Mau yang merah atau yang kuning”

“unin” jawab anaknya dengan lidah yang masih kaku.

Bapak tersebut kemudian meberikan pencil kuning yang anaknya pilih. Dengan senyum bahagia, ia mencium anaknya. Si anak pun menerima dengan senang sambil menggerak-gerakan tangan yang menandakan bahwa ia suka pemberian ayahnya itu. Bapak itu berharap bahwa pencilnya digunakan anaknya untuk belajar menulis

Namun tiba-tiba sang anak membanting-banting pencil itu ke tembok dan lantai, menggigitnya, sampai pencil itu patah. Wajah bapak itu pun berubah. Ia menjadi sangat sedih. Mengapa pencil pemberiannya dirusak. Padahal si anak sudah memilih pencil kesukaannya, harapannya pencil yang dipillih akan dirawat. Sang ayah menjadi sedih, sedih dan sedih.

Usaha baik seorang bapak bagi anaknya terkadang tidak sesuai harapan. Perjuangan menjadi yang terbaik bagi anaknya tak semudah membalikan tangan. Namun perlu disadari, bahwa seorang anak itu sangat lugu. Ia tak tahu banyak tentang dunia.

Bapak tersebut sebenarnya mengajari anaknya untuk membiasakan memilih sejak dini. Memilih satu diantara dua, tiga, empat, atau lebih. Bapak tersebut berpikir bahwa dengan mengajari anaknya memilih sesuatu kelak anaknya menjadi orang yang tegas dan konsisten. Sehingga sang anak tidak dibingungkan dengan hal-hal yang akan ia hadapi dimasa mendatang.

Apakah Anda pernah memilih sesuatu? Saya rasa Anda pernah memilih. Mungkin hal itu sama dengan cerita bapak dan anak di atas. Menurut saya memilih itu mudah. Ketika kita dihadapkan pada suatu pilihan, tentu kita akan memilih sesuai dengan apa yang kita sukai, kita cintai. Hmmmm contoh saja memilih pacar. Kalau Anda suka cewek atau cowok yang berambut lurus, nggak mungkinkanmemilih cowok atau cewek berambut gimbal jika Anda disuruh memilih dua cewek atau cowok berambut lurus dan gimbal.

Jika dilihat dari salah satu sisi yang lain,  ternyata memilih itu tidak semudah itu. Meskipun kita senang, cinta, cocok, pengen, dan “aku banget”, piiihan tersebut bisa membuat kita bingung. Karena kita juga sering terbentur dengan apa yang kita miliki. Salah satu halnya memilih jurusan kuliah apa yang akan diambil setelah lulus SMA. Seorang anak mungkin menginginkan ia masuk jurusan teknik. Ia begitu meminatinya dan ia begitu ngoyo pengen masuk kuliah jurusan teknik. Namun, melihat nilai rapor dan kemampuannya dalam bidang teknik itu kurang, terpaksa ia harus merelakan pilihan tersebut.

Memilih berasal dari kata dasar pilih. Menurut saya ada suatu hal yang menarik dari kata ini. Dalam hal memilih sesuatu, kata pilih terkesan memandang dua atau lebih barang. Dari berbagai macam barang tersebut, kita akan memilih barang yang lebih menarik. kita akan meneliti barang mana yang terbaik, yang kita sukai, dan kita cintai. Saya berpikir bahwa dalam hal memilih yang terpenting adalah its suitable with ourself. Pilihlah yang kita suka, cintamu. Dengan pilihan yang disukai dan dicintai, kiranya pilihan tersebut akan dipegang teguh.

Love Your Choice. . .  

Hidupi apa yang telah kau pilih

Hmmm saya masih ingat tetang sebuah percakapan saya dengan salah satu teman saya yang jejang pendidikannya lebih satu tahun dari saya. Saya menanyakan kabar dan sedikit sebuah canda. Mulailah saya bertanya tentang pendidikan yang ia tempuh saat ini. Saya tahu ia adalah mahasiswa baru di suatu universitas.  Saya menanyakan jurusan apa yang ia ambil di universitas tersebut. Teman saya tersebut menjawab dengan enjoy. Namun dengan spontan dia mula curhat bahwa sebenarnya ia tidak suka dengan jurusan yang telah ia pilih. Waw! Saya kaget. Dengan spontan pula saya bertanya “ lha ngopo kowe milih jurusan kui?” (lha kenapa kamu memeilih jurusan itu?). Dia menjawab dengan berat hati. Keputusannya telah menjadi bubur, bukan bubur ayam tentunya. . ihhh sempet-sempete njayus to kowe!

Memang pada awal mula teman saya telah memilih dengan kesungguhan untuk menempatkan diri pada suatu jurusan tertentu. Namun setelah menjalani perkuliahan pada jurusan tersebut, pada kenyataannya ia mulai tidak suka. Sehingga berujung pada penyakit anak muda. MALES SEKOLAH. Yang ada sekarang adalah penyesalan dan kalimat “ yo sudah, jalani saja”.

Adasuatu hal yang terlupa dalam soal pilih-memilih, yaitu menghidupi pilihan yang telah kita pilih. Kebanyakan orang lupa pada pilihan awal. Ketidak konsistenan pada suatu pilihan membuat apa yang dijalani menjadi semakin berat. Angan-angan yang dibuat sebelum memilih telah runtuh setelah melihat realitas yang ada. Mungkin karena diri kita yang mudah bosan dengan apa yang kita pilih, atau yang lainnya. Sekali lagi menghidupi pilihanlah yang sulit.

Dengan mudah orang memilih cintanya. Ia memilih pekerjaan sebagai pemimpin namun ujungnya ia korupsi. Ia memilih suatu jurusan kuliah namun karena bosan ia berat menjalani kuliah tersebut. Atau mungkin ia seorang remaja yang telah memilih seseorang untuk jadi pacarnya namun karena cinta itu sudah samar-samar maka dengan mudah ia memutuskan hubungan. Hmmmm. . . banyak akibat yang muncul karena ketidak konsistenan dalam sebuah pilihan.

Menghidupi pilihan. Menghidupi sebuah pilihan sama dengan merawat kebun sendiri. Mulai menyirami tanaman, menyiangi dari rumput-rumput liar, menata rumput dan tanaman sehingga kebun kita menjadi indah. Mulailah me-Re, ingatlah bahwa kita telah memilih pilihan tersebut. Cintailah pilihan yang telah dipilih. Sebagai contoh, ketika seorang remaja sudah memilih kekasih, cintailah kekasih itu. Jangan sampai berhenti pada sebuah pilihan, namun cintailah ia. Rawatlah. Konsisten. Ketika mulai mengalami kebosanan akan kekasihnya itu, sadarilah kembali bahwa kita telah memilihnya dari berbagai macam pilihan. Dialah yang terbaik buat kita. Rawatlah dan hidupilah. Sadarlah bahwa menghidupi pilihan itu tidak mudah. Gunakan cinta, karena cinta mengubah segalanya.

. . .

“And promise that we will bring up our choices, choices based of love”

Surakarta, 23 Januari 2012

20:41

 “ketika kau menemani dan mengajariku”

Theodorus Argo Nugroho

 

REKONSILIASI NATAL

Berbenah setelah terlambat. .

“Liburan kali ini tidak begitu membosankan karena ada beberapa kegiatan dan aktifitas yang membuat saya senang. Dari ikut misa Natal di Stasi Santo Pascalis Wangon yang menurut saya sederhana, nonton barong shai sebagai pemeriah hari Natal di stasi, sampai main futsal bareng temen-temen gereja yang menguras banyak tenaga. Selama liburan kali ini, jujur aja ni ya, makan saya banyak banget hahahaha. . kalau dihitung, setiap harinya saya bisa empat kali makan, pagi-sore-malam dengan susu hangat, ngemil-ngemil, dan beberapa aktifitas mulut.

Liburan Natal selama 2 minggu tentunya menjadi waktu yang cukup panjang untuk melakukan berbagai macam hal. Saya bisa mengunjungi sanak saudara dekat rumah, menyapa dan mengucapkan ucapan Natal tahun ini. Dan tak kalah tertinggal yaitu kumpul bareng keluarga. Itulah momen yang sebenarnya ditunggu ketika liburan. Sebagai seorang pelajar yang merantau, saya merindukan momen berkumpul dan bersenda gurau bersama orangtua dan kakak-adik saya. Tapi apa kata, orangtua saya sangat sibuk mempersiapkan hari kelahiran Tuhan Yesus Kristus. Saya tidak begitu mempermasalahkan hal itu. Yang penting bisa berkumpul dan bertemu, it’s enough. “.

Natal Oh Natal. .

Dies Natalis Iesu. .(hari lahir Yesus)

            Di hari Natal, orang-orang sibuk mempersiapkan berbagai macam hal. “Marry Christmas and Happy New Year”, pohon Natal, Santa Claus, kado-kado Natal, dan macam ornamen dipersiapkan untuk menyambut dan memeriahkan hari kelahiran Yesus Kristus.

            Begitu pula, banyak cara untuk mengungkapkan hari kelahiran Yesus ; ada yang meluangkan waktu untuk bersilahturahmi dari rumah ke rumah ; ada yang mengirimkan ucapan selamat Natal dengan sms ke semua nomor yang ada di ponselnya ; ada juga yang menggunakan teknologi jejaring sosial untuk mengucapkan selamat Natal kepada semua orang. Dan intinya tetap satu. Berbagi kebahagiaan dan kegembiraan atas lahirnya Sang Juru Selamat. Yesus Kristus.

            Bermacam-macam orang dalam memaknai Natal. Tidak heran ketika beberapa orang benar-benar mempersiapkan hari kelahiran Sang Juru Selamat ini dengan penuh persiapan. Mulai dari masa penantian yaitu masa adven, dan melakukan pengampunan dosa sebagaimana menyambut Sang Raja di hari kelahirannya pada tanggal 25 Desember. Memang banyak kontroversi, apakah Yesus Kristus lahir pada tanggal 25 Desember, namun setiap orang Kristiani percaya bahwa Tuhan lahir untuk menyelamatkan mereka.

Kelahiran diri. .

Kisah kehidupan

            Saya sempat merasa minder dengan apa yang saya lakukan di hari Natal ini. Mempersiapkannya saja, saya tidak. Mengaku dosa saja, saya tidak. Merasakan masa penantian pun, saya tidak. Misa Natal pun, saya tidak kusyuk. Begitu dosakah saya ? apakah saya tidak merasakan hal spesial di hari Natal ?  apakah ini makna Natal bagi saya? Saya menyesal kenapa semua terjadi dan saya membiarkan begitu saja. Saya merasakan hal yang sungguh amat berbeda dengan Natal tahun sebelumnya. Penyesalan selalu datang terlambat. Itu kiranya yang terus membayangi diri saya. Natal tanpa hal yang spesial. Kesempatan Natal yang penuh berkah tidak saya manfaatkan dengan baik sehingga makna Natal dalam diri saya begitu hambar. Saya jauh dari Tuhan?

            Meratapi penyesalan, yang saya ingat adalah berbagai macam hal yang telah saya perbuat dan itu membuat saya semakin jauh dari Tuhan. Mungkin inilah yang membuat saya tidak merasakan hikmah Natal tahun ini. Saya membuat diri jauh dari Sang Pencipta, membuat diri saya kurang bersyukur atas karunia dan kehadirannya di dunia.

            Kejatuhan membuat banyak hal terluka dalam diri saya. Begitu sakit ketika semua sudah disadari. Yang sekarang bisa saya lakukan adalah berbenah. Saya mulai merenung dan mencoba menenangkan diri. Rekonsiliasi begitu saya butuhkan. Saya merenung bahwa inilah kelahiran Yesus, suka cita kita semua. Saya membenahi diri saya dan berkomitmen. Saya mulai menyadari berbagai hal membuat saya terpuruk dalam dosa. Saya berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi. Berharap komitmen ini membuat saya menjadi lebih baik. Membuat saya berani menatap kedepan. Saya terlahir kembali dengan pribadi yang baru. Pribadi yang mencoba membenahi diri. Inilah makna Natal bagi saya. Saya menamai sebagai Rekonsiliasi Natal.

Kisah : NN

 

Wangon , 26 Desember 2012

14:22

 “ketika sendiri, sepi, dan kosong”

Theodorus Argo Nugroho

 

Telanjang

Oleh te’ Dorev

Manusia dilahirkan dengan telanjang

Supaya ia mencari secarik pakaian

Pakaian yang sesuai dengan mokenya tubuh, yang telah diberikan,

Disitulah manusia mencari

Kepaduan dengan tubuh,

Dari sebuah ketelanjangan

 

Manusia dilahirkan dengan telanjang

Supaya ia mencari keutamaan

Mencari yang benar diantara yang salah,

Mencari yang adil dari semua ketidakadilan,

Mencari yang tepat diantara yang tidak sesuai,

Mencari keindahan diantara yang tidak indah,

Mencari yang bijak diatara yang tidak bijak,

Disitulah manusia mencari

Kepaduan dengan hati dan moral,

Dari sebuah ketelanjangan

 

Manusia dilahirkan dengan telanjang

Supaya dengan ketelanjangan

Manusia memadukan apa yang berbeda,

Memadukan satu rasa,

Memunculkan kenikmatan,

Mengalirkan,

Menghasilkan buah rasa,

Disitulah manusia mencari

Kepaduan dengan apa yang berbeda,

Dari sebuah ketelanjangan

 

Manusia dilahirkan dengan telanjang

Suapaya ia kembali

Dengan pakaian yang ia cari,

Dengan hati dan moral yang ia pelajari,

Dengan kepaduan yang berbeda,

Disitulah manusia akan kembali

Kepada Sang Pemberi dengan apa yang telah mereka miliki

Setelah ketelanjangan.

 

Sesuatu yang Kita sebut Perubahan

oleh Benediktus Aryo

Perubahan adalah sesuatu yang pasti. Yang tidak pasti adalah hasil dari perubahan itu sendiri. Dan memang benar kalau orang mengatakan “ tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri “ dan memang tidak dapat dipungkiri, toh kita juga pernah mengalaminya atau justru menjadi korban dari suatu perubahan yang entah secara sengaja maupun tidak. Perubahan yang di bahas disini adalah perubahan secara umum dan bukan “perubahan apa?” tapi “apa perubahan“. Tulisan ini saya buat bukan karena maksud apa tetapi karena hanya saya ingin mendebatkan pikiran saya ini dan mungkin dengan anda semua. Mungkin anda belum tahu maksud saya, tetapi mungkin setelah anda membaca lebih jauh anda akan mengerti. Dan bila mungkin di tengah atau di akhir tulisan anda menemukan ada “sesuatu“ yang berubah baik cara pandang anda ataupun malah anda akan berniat membuat perubahan akan itu wajar saja karena kita sedang membicarakan tentang perubahan. Baik secara langsung maupun tidak langsung, kita pasti berhubungan dengan yang namanya berubah baik sebagai saksi perubahan korban ataupun pelaku perubahan. Saya ingat sewaktu kecil ketika melihat film superhero di tv pasti ada adegan ketika si tokoh utama yang awalnya hanya manusia biasa tetapi setelah melakukan “perubahan“ ia akan menjadi seorang superhero yang memiliki kekuatan super yang disegani oleh para penjahat dan kepribadiannya juga mendadak akan berubah jika yang awalnya pemalu namun setelah berubah menjadi superhero ia seolah menjadi orang lain. Lalu sejak itu saya tahu kalau yang namanya berubah ya yang seperti itu. Lalu saya “tumbuh” dan besar hingga sekarang ini dan hanya memiliki anggapan yang itu itu saja. Namun ternyata yang namanya perubahan bukan hanya yang seperti itu saja, seperti kata yang saya beri tanda kutip (“ . .”) pada kalimat sebelumnya, yaitu “Tumbuh” ternyata mengandung makna yang hampir sama dengan perubahan kan ? Logikanya begini, saya sekarang sudah “tumbuh” ataupun “berkembang besar” berarti saya “berbeda dari yang dulu“ waktu saya kecil, kalau saya sekarang “berbeda” dari yang dulu, itu berarti saya telah mengalami “perubahan” bukan ? berarti tanpa saya sadari, saya telah “berubah”, mungkin sebagian dari anda mulai menganggukkan kepala, mulai mengerti jalan cerita dari tulisan ini. Perubahan yang saya alami atau anda juga pasti mengalami seperti yang di sebutkan di atas yaitu “tumbuh“ adalah perubahan yang tampak atau secara fisik kita mengalami “perubahan” mungkin pertambahan usia, makin tinggi, makin besar, dan sebagainya kita kategorikan dalam klasifikasi ini. Dalam klasifikasi ini perubahan itu dapat kita “lihat” dan “rasakan” .misalnya juga pada lingkungan sekitar kita,misalnya yang dulu hanya sawah, sekarang sudah ada gedung bertingkat dan sebagainya. namun ada perubahan yang tidak dapat dilihat namun dapat “dirasakan“ ingat kata kuncinya yaitu “perbedaan“. Sebelumnya telah kita uraikan bahwa sesuatu atau situasi yang “berbeda“ sudah dapat kita sebut “ perubahan “. Pada klasifikasi yang kedua yaitu perubahan yang tidak dapat dilihat namun dapat “dirasakan“ adalah perubahan yang sifatnya mulai abstrak. Kita misalkan perubahan dalam dinamika sosial, misalkan kesetaraan gender, “eh tunggu dulu, kalau keseteraan gender kan jelas bisa dilihat kan, buktinya dulu wanita gak ada yang kerja apalagi jadi boss berarti kan masih bisa dilihat kan ?“, nah pertanyaan yang cukup kritis, mari kita uraikan. Yang dapat kita lihat tadi adalah akibat dari perubahan itu sendiri, berarti kesimpulan sementaranya adalah “suatu perubahan dapat mengakibatkan sesuatu atau bahkan mengakibatkan perubahan lain lagi baik dalam bentuk yang sama ataupun berbeda“, misalnya klasifikasi perubahan bentuk kedua dapat mengakibatkan perubahan bentuk pertama atau sebaliknya. Artinya hukum sebab akibat ataupun aksi rekasi tetap berlaku. Kemudian ada lagi jenis “perubahan“ klasifikasi ketiga yaitu perubahan yang “tidak dapat dilihat“ dan “tidak dapat dirasakan “ yang dapat merasakan hanyalah orang yang tidak melakuikan perubahan ( orang lain / lingkungan sosial ) dan kita tidak dapat merasakan “ perubahan “ yang telah kita lakukan karena kita tidak dapat menemukan sesuatu yang “ berbeda “ alias kita merasa “ biasa – biasa saja “, misalnya perubahan watak, kepribadian. Ataupun sebaliknya, hanya kita sebagai subyek yang merasakanya tetapi orang lain tidak merasakannya karena tidak menemukan “perbedaan“ dari diri kita. Misalnya gejolak batin yang kita alami lalu berusaha kita tutupi dari orang lain. Pada kesimpulannya, saya sependapat dengan argumen “tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri“. Lalu kesimpulan saya adalah “Perubahan tidak dapat diciptakan atau di hilangkan namun dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain“. Kalau anda perhatikan, kesimpulan saya di atas hampir sama dengan teori hukum kekekalan energi bukan ? lalu saya jawab Ya ! karena memang begitulah adanya. Intinya adalah perubahan pada dasarnya sama dengan energi. Walaupun tidak dapat di ciptakan atau dimusnahkan, namun dapat kita kontrol, layaknya kita merubah energi listrik menjadi energi cahaya pada lampu, atau energi listrik menjadi energi panas pada setrika. Maka seharusnya kita bisa mengatur suatu perubahan agar dunia menjadi lebih baik bukan ? Akhir kata saya ucapkan, Mari kita lakukan perubahan positif !!

TAMAGOCI (madang, ngising,turu)

Aktifitas anak muda pada hari libur

kwe gek ngopo dab, ak ki lbrn mualeeessee puollll. Gek tangi jam 10, kui we jih klacar-klucur rak jelas. Adus yo mbuh, mengko nek ono panganan yo sarapan, nek BAB yo tinggal ning mburi, mengko nek wis muales yo enak’ke turu maneh. Nek kwe pye dab?

-sebuah SMS anak muda-

Saya tidak habis pikir, mengapa teman-teman saya, terkhusus teman sekolah saya, begitu senang bila ada liburan sekolah. Tidak semua memang. Bukannya saya tidak suka jika ada liburan sekolah, tapi sekarang saya lebih memilih untuk masuk sekolah. Entah gara-gara saya sudah memiliki seorang kekasih yang bisa bertemu setiap hari di sekolah dan begitu menyedihkan karena saya harus meninggalkannya ketika liburan seperti ini; atau saya lebih asik bila berkumpul bersama teman-teman satu kelas sambil bermain gitar dengan satu lagu kesukaan saya “indah terasa indah, bila kita terbuai dalam ikatan cinta…..(lagunya Padi)”; tetapi saya berpikir bahwa tidak ada kegiatan menarik ketika liburan seperti ini. Do you think so?

Dengan sebuah cara saya bisa membaca pikiran Anda. “ Anda begitu malas ketika liburan, ya bukan?haha. . Saya juga akan menebak sebuah pemikiran yang lasim dijumpai, terkhusus bagi kita para pelajar. Ketika sekolah kita akan memilih libur atau meliburkan diri, tetapi ketika liburan kita akan membalik pernyataan tersebut dengan ungkapan ; “mending sekolah ae nek ngene ki!”. Anehkah dengan hal semacam itu? Bagi saya tidak aneh, wajar, hal itu sering dialami oleh para remaja. Sifat-sifat malas yang sering digandrungi dan muncul secara tiba-tiba, membuat anak muda atau remaja mengatakan “bosen!”. Hal itu benar-benar terungkap, dan saya melihat, mendengarnya juga secara langsung waktu kemarin saya berkunjung ke rumah teman saya. Ardi namanya.

TAMAGOCI

(madang, ngising, turu)                                                                                                              

makan, buang air besar, tidur…

 

Saya teringat akan sebuah mainan masa Sekolah Dasar saya. Teman-teman saya menyebutnya Tamagoci. Mungkin Anda kenal dengan mainan tersebut. Ya, mainan tersebut begitu populer ketika saya di Sekolah Dasar dulu. Permainannya hanya sekedar merawat bayi (atau kalau saya dulu itu Pokemon, atau hewan) sampai mereka tumbuh menjadi dewasa. Kita hanya mengatur kegiatan ‘bayi’ yang kita rawat. Kita mesti mengatur jam istirahat, makan, olahraga, samapai-sampai kita juga mesti mengatur buang air besar si ‘bayi’ tersebut. Hmmm, kalau kita sampai lupa jam istirahat, makan, dan BAB si ‘bayi’, urusannya bakal berabe. Kita harus mengulang permainan tersebut, karena si ‘bayi’ di istilahkan meninggal. Permainan begitu simpel, bukan? Yah, selain simpel, bentuk mainan yang bentuknya kecil seperti HP, membuat permainan ini mudah dibawa ke mana saja. Termasuk bermain ketika jam pelajaran di Sekolah. Itu, Sekolah Dasar saya dulu!!

Ironis!! Itu yang bisa saya katakan ketika melihat sebuah status Facebook teman-teman saya ketika liburan kali ini. Kurang lebih seperti ini contohnya : “mangan-turu tok gaweanku”(kerjaanku hanya makan-tidur), “malas sekali”,dsb. Begitu banyak anak muda, termasuk saya, melakukan kegiatan yang sama ketika liburan. Bisa dibayangkan, tubuh jadi gemuk, bantal banyak iler, dan awas! Saptiteng Anda penuh, gara-gara aktifitas kita yang madangngisingturu. . . haha… Huh, lucu! Hal ini lucu bagi saya, karena kegiatan teman-teman saya, termasuk saya, (anak muda) ketika liburan disamakan dengan mainan jaman rak kepenak saya dulu.

Sekali lagi, saya ingin mengatakan bahwa hal tersebut adalah wajar dialamai anak muda ketika liburan. Tapi saya juga tetap ingin mengatakan hal ini lucu. Wajar, karena kecenderungan anak muda pada masa perkembangan transisi ini sangat labil emosinya. Terkadang dia merasa senang, dan sebegitu cepat dia bisa menjadi anak yang begitu murung sedunia, serta orientasi anak muda yang lebih gemar untuk melakukan hal-hal yang hanya mereka sukai. Apalagi waktu-waktu liburan seperti ini, apabila mereka tidak melakukan kegiatan atau tidak ada kegiatan yang bisa membuatnya senang, dengan mudah mereka akan menyimpulkan hidupnya ketika liburan itu, “MEMBOSANKAN”. Dan anak muda akan lebih memilih melakukan kegitan Tamagoci, hahaha. . .

           

Liburan = Sekolah Informal

Mengisi waktu liburan yok . .

Isss sumpah deh! Klo lu anak muda, lu mesti kreatif di hari liburan kayak gini. . .

            Pagi tadi saya sempet sewot, karena orang yang saya sayangi bangunnya siang. Saya tidak marah, tetapi istilahnya kalau lihat anak muda terlebih cewek bangunnya siang banget, secara jujur saya merasa ‘risih’. Dengan alasan yang sama, yaitu ‘inikan libur’, mereka memutuskan untuk bangun lebih siang daripada jam-jam biasanya. Dan saya berpikir bahwa hal tersebutlah yang menjadi cikal-bakal kehidupan anak muda di hari libur begitu membosankan.

Saya pernah dengar ungkapan teman saya, namanya Rio. Dia mengatakan demikian ; “kata ibuku tu, kalau kamu bangun pagi-pagi, hari-harimu terasa lebih panjang. Jadi rasanya klo liburan tu lama banget”. Dengan mantap saya akan mengacungkan jari saya ke atas, bukti bahwa saya setuju dengan pendapat teman saya itu. Selain hari yang panjang kita juga dapat merasakan segarnya udara pagi, dimana kendaraan roda dua, tiga dan empat belum berkeliaran. Apalagi suasana mudik seperti ini. Volume kendaraan yang banyak, membuat kuantitas dan kualitas udara bersih jarang kita dapatkan. Tidak menutup kemungkinan di pagi hari kita tidak mendapatkannya. Selain udara segar, sinar matahari juga belum begitu menyengat, jadi kita bisa melakukan kegatan dengan segar ditemani kehangatan sang mata dewa. Seperti kegiatan saya pagi tadi. Bersama sepupu saya, yang baru duduk di Sekolah Dasar, saya diajak bersepeda. Kami bersepeda ke tempat yang belum kami jumpai, karena saya termasuk warga baru kota Solo. Itung-itung bisa cari sesuatu, hehe… mangga atau rambutan maksud saya. . Banyak hal positif dengan kegiatan seperti bersepeda ini. Selain olahraga, kita bisa menerapkan pelajaran Kewarganegaraan, atau Sosiologi yang kita dapatkan di sekolah, yaitu menyapa satu sama lain. Celana pendek, kaos oblong, dan bau kecut badan saya karena belum mandi, mewarnai tegur sapa saya dengan beberapa orang yang saya jumpai. Walaupun tidak kenal dengan keramahan, saya tetap menyapa ‘nderek langkung’. Tak segan, saya lemparkan senyum manis saya ke orang itu. Orang Solo ramah juga niee.

Tapi saya sarankan Anda jangan melakukan hal yang sama seperti saya setiap hari. Bisa dikatain gila ntar. Hal lain yang bisa kita lakukan di hari liburan tepatnya pagi hari adalah berlatih memasak. Bagi Anda seorang cewek (tidak dipungkiri cowok juga), Anda bisa berlatih memasak dengan ibu yang Anda cintai. Mungkin beberapa resep masakan bisa Anda kuasai di hari libur yang cukup panjang ini. Dan Anda tidak perlu bingung jika cowok atau cewek Anda minta dimasakin nasi goreng, telur goreng, atau rumput goreng. Hehe. .

Hal yang lain adalah itu, menerapkan pelajaran Kewarganegaraan atau Sosiologi. Kita bisa bangun pagi dan berjalan-jalan keluar rumah. Disana kita akan menjumpai orang-orang yang kita kenal. Mungkin orang itu adalah tetangga Anda. Kita bisa berbincang-bincang, berlatih bermasyarakat secara nyata. Bandingakan ketika kita di sekoalah. Di Sekolah kita akan hanya mendapatkan teori-teori ilmu pelajaran. Bagi saya, lingkungan sekolah hanya lingkungan sempit untuk wawasan kita. Waktu liburan inilah, dimana kita bisa menggali apa yang tidak bisa kita dapatkan di sekolah formal. Jadi, liburan adalah sekolah informal kita. Ber-eksplor-lah di hari libur.

Saya akan menghipnotis Anda, layaknya saya seorang Uya Kuya. Tatap mata saya. Dengan kekuatan sihir, saya perintahkan Anda untuk bangun pagi dan melakukan kegiatan se-kreatif Anda. Karena Anda adalah anak muda yang kreatif dan tidak mau liburan ini menjadi liburan terburuk bagi Anda. Mulailah berpikir kegiatan apa yang akan Anda lakukan untuk besok dari sekarang! Jangan samapai kegiatan Anda hanya madangngising­turu.

            “emangnya lu mau disamain cuy ma mainan ecek-eceknya Theo, lu = Tamagoci, mending lu jadi mainannya dia aja gih, biar si Theo nostalgia sama jaman rak kepenaknya. . makannya cuy, jangan kayak gitu tok kegiatan lu waktu liburan dong…”

 

Surakarta,29 Agustus 2011

12:23

 “ketika aku mulai merasakan kehidupan kembali berkat kehadiran-nya(Nya)”

Theodorus Argo Nugroho